Warga Minas Jaya Siak Perkuat Kemandirian Ekonomi Lewat Budidaya Ikan Lele

SIAK — Warga Kelurahan Minas Jaya, Kabupaten Siak, Riau, mulai memperkuat kemandirian ekonomi melalui usaha budidaya ikan lele yang dikelola secara berkelompok. Program ini berkembang menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat, termasuk para pensiunan dan ibu rumah tangga.

Salah satu pelaku budidaya, Jamaros (56), mengaku memilih tetap aktif berusaha setelah memasuki masa pensiun. Bersama anggota Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Jaya Bersama, ia mengembangkan usaha budidaya lele yang sebelumnya dikelola secara sederhana.

“Dari sekarang kami mulai sedikit demi sedikit, supaya ada yang bisa diharapkan untuk masa depan,” kata Jamaros di Minas Jaya, Senin(15/06).

Menurut dia, kapasitas kolam yang semula hanya mampu menampung sekitar 3.000 bibit lele kini meningkat menjadi sekitar 15.000 bibit dalam setiap siklus budidaya.

Namun, perjalanan pengembangan usaha tersebut tidak selalu berjalan mulus. Pada tahap awal, kelompok yang sebagian besar beranggotakan pensiunan dan ibu rumah tangga menghadapi berbagai kendala, mulai dari tingginya harga pakan dan bibit, keterbatasan modal, hingga ketergantungan pada tengkulak yang berdampak pada rendahnya keuntungan.

Perkembangan usaha mulai terlihat setelah mendapat pendampingan dari PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona Rokan. Perusahaan tersebut menginisiasi pembentukan Gabungan Kelompok Perikanan (Gapokkan) Minas Bahari Serumpun yang menghimpun delapan kelompok budidaya perikanan di wilayah tersebut, termasuk Pokdakan Jaya Bersama.

Selain memberikan bantuan berupa 24.000 bibit lele dan pakan, PHR juga menyediakan mesin pembuat pelet mandiri berbahan dasar ikan rucah serta pelatihan pembuatan probiotik. Program tersebut bertujuan meningkatkan efisiensi biaya produksi yang selama ini menjadi tantangan utama para pembudidaya.

Dalam satu siklus budidaya dengan sekitar 7.500 ekor benih, kebutuhan pakan dapat mencapai 850 kilogram selama masa pemeliharaan hingga panen yang berlangsung sekitar tiga bulan.

Melalui pendampingan tersebut, anggota kelompok mulai menerapkan berbagai praktik budidaya yang lebih terukur, seperti penggunaan probiotik secara mandiri, pengelolaan kualitas air, pengaturan kepadatan tebar, dan pemantauan kesehatan ikan secara berkala.

Ketua dan anggota Gapokkan Minas Bahari Serumpun juga berhasil memperluas akses pasar. Sejak 2025, kelompok tersebut telah memasok lebih dari satu ton ikan lele untuk mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan nilai penjualan sekitar Rp23,9 juta.

Manager Community Involvement and Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan capaian tersebut menunjukkan potensi masyarakat untuk berkembang melalui program pemberdayaan yang berkelanjutan.

“Kami percaya masyarakat memiliki potensi yang besar untuk berkembang. Peran kami adalah mendukung agar potensi tersebut dapat tumbuh menjadi usaha yang produktif, mandiri, dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar,” ujarnya.

Manfaat ekonomi program tersebut juga dirasakan warga di sekitar lokasi budidaya. Pokdakan Jaya Bersama melibatkan ibu rumah tangga untuk membantu proses pembersihan ikan hasil panen yang disalurkan ke Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Salah seorang warga, Weti, mengatakan kegiatan tersebut memberikan tambahan penghasilan bagi keluarganya.

“Alhamdulillah, dari membantu membersihkan ikan lele ada tambahan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Ke depan kami juga ingin mengembangkan produk turunan seperti ikan salai jika hasil usaha semakin baik,” katanya.

Budidaya lele di Minas Jaya kini tidak hanya menjadi kegiatan sampingan, tetapi juga berkembang sebagai salah satu upaya meningkatkan kesejahteraan dan kemandirian ekonomi masyarakat setempat.(DI)

 

TERKAIT