Pekanbaru 242 Tahun: Transformasi Kota di Era Agung Nugroho dan Program KolaborAksi

PEKANBARU - Pekanbaru merayakan hari jadinya yang ke-242 pada 23 Juni 2026 dalam suasana yang tidak sepenuhnya seremonial. Di balik panggung perayaan, pemerintah kota mencoba menampilkan satu pesan utama: pembangunan tidak lagi hanya soal proyek, tetapi tentang cara kota ini bekerja bersama warganya.

Tema “Berkolaborasi Menjadi Aksi” dan tagline “Pekanbaru KolaborAksi” menjadi bingkai perayaan tahun ini. Namun di lapangan, tema itu diuji pada hal-hal yang lebih konkret: jalan lingkungan, sampah, transportasi publik, hingga layanan administrasi yang menyentuh langsung kebutuhan harian warga.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho menyebut momentum hari jadi sebagai titik evaluasi, bukan sekadar perayaan. “Ulang tahun kota ini bukan hanya perayaan usia, tapi pengingat bahwa pekerjaan kita belum selesai,” ujarnya dalam wawancara di sela rangkaian acara HUT Pekanbaru.

Ia menegaskan, arah pembangunan Pekanbaru saat ini bertumpu pada penguatan layanan dasar dan keterlibatan masyarakat. “Kami ingin memastikan perubahan itu tidak hanya terlihat di pusat kota, tetapi juga dirasakan sampai ke lingkungan warga,” kata Agung.

Salah satu indikator yang kerap disebut pemerintah adalah pertumbuhan ekonomi Pekanbaru yang mencapai sekitar 7,91 persen pada triwulan I 2026. Menurut Agung, angka itu tidak berdiri sendiri. “Pertumbuhan itu lahir dari perputaran ekonomi kecil, dari warung, UMKM, sampai investasi yang mulai kembali bergerak,” ujarnya.

Di sisi fiskal, pemerintah kota mencatat kenaikan Pendapatan Asli Daerah dari sekitar Rp800 miliar menjadi Rp1,2 triliun. Agung menyebut peningkatan itu tidak lepas dari pembenahan sistem. “Kami mempercepat perizinan, memperbaiki layanan digital, dan mendorong kepatuhan pajak tanpa harus mempersulit warga,” katanya.

Namun, ia tidak menutup mata bahwa tantangan di lapangan masih besar. Jalan lingkungan yang rusak, drainase yang belum optimal, hingga persoalan banjir masih menjadi pekerjaan harian pemerintah kota. “Kalau bicara infrastruktur, kita tidak bisa menyelesaikan semuanya sekaligus. Tapi kita pastikan ada pergerakan setiap tahun,” ujar Agung.

Pemerintah mencatat perbaikan jalan lingkungan telah mencapai sekitar 7.000 meter, disertai pembersihan drainase di 15 kecamatan. Di beberapa kawasan, pekerjaan itu masih berlangsung bersamaan dengan keluhan warga yang belum sepenuhnya terjawab.

Di sektor lingkungan, pembentukan Lembaga Pengelola Sampah (LPS) di tingkat kelurahan menjadi salah satu kebijakan yang digenjot. Agung menyebut persoalan sampah tidak bisa hanya diselesaikan oleh pemerintah. “Kalau hanya mengandalkan truk sampah, kita akan terus tertinggal. Karena itu, kami dorong pengelolaan dari sumbernya,” katanya.

Langkah lain yang mulai diperkenalkan adalah uji coba bus listrik sebagai transportasi publik ramah lingkungan. Menurut Agung, kebijakan ini bukan sekadar modernisasi, tetapi juga bagian dari perubahan perilaku kota. “Transportasi publik harus menjadi pilihan, bukan terakhir yang dipilih,” ujarnya.

Di bidang pendidikan, pemerintah kota meluncurkan program transportasi gratis bagi pelajar. Agung menyebut kebijakan ini sebagai bentuk intervensi langsung terhadap biaya hidup keluarga. “Kami ingin memastikan anak-anak bisa sekolah tanpa beban tambahan di jalan,” katanya.

Sementara di sektor ekonomi kerakyatan, program UMKM terus diperkuat melalui subsidi bunga pinjaman, bantuan usaha, dan pelatihan wirausaha baru. Pemerintah mengklaim program ini turut berkontribusi menurunkan angka kemiskinan hingga sekitar 3,1 persen. “UMKM adalah tulang punggung ekonomi kota ini,” ujar Agung.

Perayaan HUT ke-242 Pekanbaru tahun ini juga diisi dengan 48 rangkaian kegiatan yang menyentuh langsung masyarakat. Mulai dari layanan sosial, kesehatan, olahraga, hingga festival budaya Melayu yang tersebar di berbagai titik kota.

Salah satu yang paling menyedot perhatian adalah Festival Kue Talam Ketan Durian sepanjang satu kilometer. Ribuan warga memadati lokasi sejak pagi. Agung menyebut kegiatan itu sebagai contoh bagaimana budaya bisa menjadi ruang pertemuan ekonomi dan identitas. “Kita ingin budaya tidak hanya dirayakan, tapi juga menghidupkan orang-orang yang ada di dalamnya,” ujarnya.

WhatsApp Image 2026-06-23 at 10.52.01 (1).jpeg

Festival tersebut juga mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) untuk kategori Sajian Kue Talam Ketan Durian Terpanjang. Namun bagi Agung, pencapaian itu bukan tujuan akhir. “Rekor itu penting sebagai simbol, tapi yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat merasa menjadi bagian dari peristiwa ini,” katanya.

Di usia 242 tahun, Pekanbaru tampak berada di persimpangan yang khas: antara kota yang terus membesar dan kota yang sedang belajar merapikan dirinya. Dalam narasi pemerintah, kolaborasi menjadi kata kunci. Tetapi di mata warga, kolaborasi itu akan selalu diuji oleh satu hal sederhana: apakah perubahan benar-benar terasa di depan rumah mereka.(Adv)

TERKAIT