Ribuan Warga Padati Sungai Siak, Agung Nugroho Ikut Petang Belimau Jelang Ramadan

PEKANBARU – Sore itu, tepian Sungai Siak berubah riuh. Air memercik ke udara, sorak warga bersahut-sahutan, sementara aroma limau bercampur dengan angin sungai yang lembap. Di tengah kerumunan, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, tampak berdiri di atas mobil pemadam kebakaran. Selang diarahkan ke warga. Air menyembur, disambut gelak tawa ribuan orang yang memadati kawasan Rumah Singgah Tuan Kadi, Kecamatan Senapelan, Rabu(18/02).

Tradisi Petang Belimau kembali digelar menjelang datangnya Ramadan. Sejak pukul empat sore, warga dari berbagai penjuru kota berdatangan. Anak-anak, remaja, hingga orang tua berbaur di tepian sungai. Sebagian membawa limau dalam wadah kecil, sebagian lain hanya ingin menyaksikan prosesi adat yang saban tahun menjadi penanda masuknya bulan suci.

Acara diawali dengan prosesi adat Melayu. Tepuk tepung tawar dan doa bersama mengawali rangkaian kegiatan. Pelaksana Tugas Gubernur Riau, SF Hariyanto, hadir bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah. Mereka duduk bersisian di panggung sederhana yang menghadap langsung ke Sungai Siak.

Usai prosesi adat, suasana berubah cair. Warga mendekat ke bantaran sungai. Di momen itulah Agung turun dari panggung. Ia menyapa warga, lalu ikut memegang selang pemadam. Air menyembur deras ke arah kerumunan. Teriakan “Allahuakbar” dan tawa pecah bersamaan.

“Ini budaya yang memang menjadi satu kebahagiaan dalam menyambut Bulan Suci Ramadan,” kata Agung kepada wartawan di sela kegiatan. Ia menegaskan, Petang Belimau bukan bagian dari ritual wajib agama, melainkan tradisi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Melayu di Pekanbaru.

Di sisi lain halaman Rumah Singgah Tuan Kadi, sejumlah anak yatim duduk berbaris mengenakan pakaian muslim berwarna cerah. Satu per satu mereka menerima santunan. Agung kemudian mengikuti prosesi memandikan anak yatim dengan air bercampur limau. Prosesi itu menjadi simbol pembersihan diri sebelum memasuki Ramadan.

Pemerintah Kota Pekanbaru juga menyalurkan bantuan sembako kepada warga kurang mampu. Paket beras, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya dibagikan langsung di lokasi. Antrean mengular, namun tetap tertib di bawah pengawasan petugas.

Menjelang magrib, perhatian beralih ke tepian sungai. Sebanyak 10 ribu bibit ikan patin dilepas ke Sungai Siak. Bibit-bibit itu ditebar sebagai bagian dari program ketahanan pangan sekaligus menjaga ekosistem sungai. Beberapa warga ikut menurunkan ember berisi benih ikan, lalu menyaksikan gerak cepatnya menghilang di air keruh kecokelatan.

Petang Belimau tahun ini tak sekadar menjadi pesta air. Ia menjelma ruang pertemuan antara tradisi, kepedulian sosial, dan pesan menjaga lingkungan. Di bawah langit yang mulai meredup, warga perlahan meninggalkan tepian Sungai Siak. Aroma limau masih tercium samar, menyisakan penanda bahwa Ramadan tinggal menghitung hari.(DI)

 

TERKAIT