Konflik Gajah dan Manusia di Riau Mulai Mereda, Petani Balai Raja Temukan Solusi Damai

BENGKALIS— Konflik antara manusia dan gajah yang selama bertahun-tahun menghantui kawasan Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, mulai menunjukkan titik terang. Melalui pendekatan pelestarian berbasis masyarakat, warga di sekitar Koridor Balai Raja kini perlahan mampu hidup berdampingan dengan Gajah Sumatera.

Bagi Jhon Hendrik Purba, suara ranting patah dan getaran langkah satwa liar di tengah malam pernah menjadi sumber kecemasan. Sebagai petani yang tinggal di sekitar jalur lintasan gajah, ia kerap mengalami kerusakan kebun akibat pergerakan satwa dilindungi tersebut.

“Sekarang kami mulai belajar bahwa menjaga koridor gajah bukan berarti masyarakat tidak bisa berkembang. Justru kalau alamnya tetap terjaga, kami juga punya peluang untuk terus hidup dan mencari penghasilan di sini bersama-sama,” kata Jhon, Kamis(22/05).

Jhon merupakan Ketua Kelompok Tani Hutan (KTH) Alam Pusaka Jaya. Bersama anggota kelompoknya, ia terlibat dalam program penguatan ruang koeksistensi gajah dan manusia yang diinisiasi PT Pertamina Hulu Rokan (PHR).

Melalui program itu, masyarakat mulai mengubah pola pengelolaan lahan dengan menerapkan sistem agroforestri ramah gajah. Petani menanam cabai sebagai komoditas utama karena memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus tidak disukai gajah.

Selain itu, masyarakat juga membudidayakan tanaman tahunan seperti durian, alpukat, kakao, matoa, jengkol, dan kopi. Tanaman tersebut dinilai mampu memperkuat tutupan lahan sekaligus menjadi sumber penghasilan jangka panjang bagi warga.

Tidak hanya melindungi lahan pertanian, masyarakat juga mulai menyediakan sumber pakan alami bagi gajah di jalur lintasannya. Mereka menanam rumput odot, pisang, bambu, nangka, dan trembesi untuk mengurangi potensi gajah masuk ke area permukiman.

Langkah tersebut dinilai efektif menekan konflik antara manusia dan satwa liar. Ketika kebutuhan pakan tersedia di dalam koridor habitatnya, gajah cenderung tidak keluar menuju kebun maupun permukiman warga.

Program pengelolaan terpadu itu juga diperluas melalui budidaya sapi dan kambing berbasis silvopastura. Model tersebut memungkinkan masyarakat memanfaatkan lahan secara produktif tanpa membuka kawasan hutan baru.

Manager Community Involvement & Development (CID) PHR, Iwan Ridwan Faizal, mengatakan pelestarian ekosistem merupakan investasi jangka panjang yang harus dijaga bersama.

“Peringatan Hari Keanekaragaman Hayati ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Melalui program tersebut, PHR mendorong masyarakat dan keanekaragaman hayati untuk tumbuh bersama,” ujar Iwan.

Menurut dia, apa yang dilakukan KTH Alam Pusaka Jaya menjadi contoh nyata koeksistensi antara manusia dan satwa liar. Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan solusi ekonomi bagi masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan habitat gajah.

Kini, Koridor Balai Raja mulai berubah menjadi ruang hidup yang lebih harmonis. Ketakutan yang sebelumnya membayangi warga perlahan berganti menjadi kesadaran untuk menjaga keseimbangan alam di kawasan tersebut.(DI)

 

TERKAIT