Densus 88 Warning Sekolah di Siak, Anak-anak Kini Rentan Terpapar Radikalisme Digital
SIAK — Dinas Pendidikan Kabupaten Siak bersama Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri mengajak seluruh sekolah memperkuat peran dalam mencegah penyebaran paham intoleransi, radikalisme, ekstremisme, dan terorisme (IRET) di lingkungan pendidikan.
Komitmen tersebut dibahas dalam Forum Group Discussion (FGD) yang diikuti sekitar 180 kepala SMP se-Kabupaten Siak secara virtual dari Living Room Lantai II Kantor Bupati Siak, Komplek Perkantoran Tanjung Agung, Sungai Mempura, Selasa(26/05)
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Siak, Romy Lesmana, mengatakan forum itu menjadi ruang berbagi pemahaman sekaligus memperkuat sinergi antara sekolah dan berbagai pihak dalam menghadapi tantangan perkembangan anak di era digital.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun kesamaan persepsi seluruh kepala sekolah terkait pentingnya penguatan karakter, peningkatan kewaspadaan, serta peran sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi peserta didik,” kata Romy.
Menurut dia, kepala sekolah memiliki peran penting dalam meneruskan pemahaman tersebut kepada guru dan tenaga kependidikan agar dapat diterapkan dalam pembinaan siswa sehari-hari.
Romy juga menyinggung peristiwa yang terjadi di Islamic Center Siak sebagai pengingat pentingnya pembentukan karakter dan pendampingan terhadap anak.
“Peristiwa yang terjadi di Siak harus menjadi pelajaran bersama bahwa upaya pencegahan harus diperkuat, terutama di lingkungan sekolah agar anak-anak tidak mudah terpapar paham radikal berbasis kekerasan,” ujarnya.
Sementara itu, Iptu Umar Dhani dari Satgaswil Riau Densus 88 Antiteror Polri menjelaskan pola penyebaran paham radikal kini terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi.
Menurut dia, jika sebelumnya penyebaran dilakukan melalui pertemuan langsung, kini berbagai platform digital kerap dimanfaatkan untuk menjangkau generasi muda.
“Guru memiliki posisi yang sangat strategis karena menjadi pihak yang paling dekat dengan siswa di lingkungan sekolah. Karena itu, kewaspadaan dan komunikasi yang baik sangat diperlukan dalam mendeteksi potensi penyebaran paham IRET sejak dini,” kata Umar.
Ia menegaskan, guru dan orang tua merupakan benteng pertama dalam pencegahan penyebaran paham IRET kepada anak. Keduanya dinilai perlu membangun komunikasi aktif, pendekatan humanis, serta dialog terbuka agar persoalan yang dihadapi anak dapat diketahui lebih awal.
Selain itu, Umar mengingatkan bahwa media sosial dan game online menjadi ruang yang perlu mendapat perhatian karena tingginya intensitas penggunaan teknologi di kalangan remaja.
“Perkembangan modus penyebaran paham radikal saat ini semakin kompleks. Anak-anak dan remaja menjadi target melalui ruang digital yang dekat dengan kehidupan mereka sehari-hari,” ujarnya.
Forum tersebut juga menekankan pentingnya menanamkan nilai kebangsaan, toleransi, dan sikap saling menghargai di tengah keberagaman. Lingkungan sekolah yang ramah serta bebas dari perundungan dinilai menjadi faktor penting dalam membentuk karakter peserta didik.
Melalui kegiatan itu, para kepala sekolah diharapkan dapat menerapkan penguatan karakter, literasi digital, dan kewaspadaan terhadap berbagai pengaruh negatif di satuan pendidikan masing-masing.(LI)










Tulis Komentar