Saat MTQ dan Pacu Jalur Bertemu, Kuansing Bersiap Menjadi Pusat Perhatian Riau
KUANSING — Suasana akhir Juni 2026 diperkirakan akan berbeda di Kabupaten Kuantan Singingi. Di satu sisi, lantunan ayat suci Al-Qur'an akan menggema dalam perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XLIV Riau. Di sisi lain, derap semangat para pendayung akan memecah permukaan Sungai Kuantan dalam Festival Pacu Jalur Rayon II.
Dua agenda besar itu akan berlangsung hampir bersamaan. Pemerintah Kabupaten Kuansing melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk memperkenalkan daerah yang selama ini dikenal dengan tradisi pacu jalurnya kepada masyarakat yang datang dari berbagai penjuru Riau.
Persiapan pun mulai dipercepat. Sejumlah instansi pemerintah bersama aparat kepolisian duduk satu meja untuk menyamakan langkah. Bukan hanya soal kelancaran acara, tetapi juga bagaimana ribuan tamu yang diperkirakan hadir dapat menikmati seluruh rangkaian kegiatan dengan aman dan nyaman.
Kepala Bagian Operasional Polres Kuansing, Kompol Raymon Tarigan Gersang, menilai sinergi lintas sektor menjadi kebutuhan utama mengingat besarnya skala kegiatan yang akan berlangsung.
Menurut dia, pengamanan tidak hanya berfokus pada lokasi acara. Arus lalu lintas, ketersediaan layanan kesehatan, hingga pengaturan mobilitas pengunjung menjadi bagian dari perhatian yang harus dipersiapkan sejak dini.
Di tengah berbagai persiapan tersebut, panitia MTQ menyiapkan sesuatu yang berbeda. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pawai ta'aruf identik dengan iring-iringan kendaraan hias, kali ini Sungai Kuantan akan menjadi panggung utama.
Pemerintah daerah berencana menggelar pawai perahu hias yang melintasi aliran sungai. Pilihan itu bukan tanpa alasan. Sungai Kuantan selama ini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat setempat, sekaligus ruang budaya yang melahirkan tradisi pacu jalur.
Asisten III Sekretariat Daerah Kuansing, Azhar, mengatakan pawai ta'aruf dijadwalkan berlangsung pada pagi hari, sedangkan pawai perahu hias akan digelar pada sore harinya. Konsep tersebut diharapkan menghadirkan nuansa berbeda sekaligus memperkuat identitas daerah dalam pelaksanaan MTQ tingkat provinsi.
Bagi masyarakat Kuansing, sungai bukan sekadar bentang alam. Dari sungai itulah lahir tradisi pacu jalur yang telah menjadi ikon budaya daerah selama puluhan tahun. Karena itu, menggabungkan unsur sungai dalam perhelatan MTQ dinilai sebagai cara mempertemukan nilai religius dan kekayaan budaya lokal dalam satu momentum.
Di balik kemeriahan yang dipersiapkan, tantangan lain juga menanti. Lonjakan kendaraan dan kepadatan pengunjung menjadi persoalan yang harus diantisipasi. Satuan Lalu Lintas Polres Kuansing bersama Dinas Perhubungan mulai menyusun sejumlah skema pengaturan arus kendaraan, termasuk menyiapkan jalur alternatif dan kantong parkir tambahan.
Bagi pemerintah daerah, keberhasilan penyelenggaraan MTQ dan Pacu Jalur tidak hanya diukur dari kelancaran acara. Ada harapan yang lebih besar, yakni meningkatnya kunjungan wisatawan dan tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat.
Hotel, rumah makan, pelaku usaha kecil, hingga pedagang di sekitar arena kegiatan diperkirakan akan merasakan dampak dari ramainya pengunjung yang datang selama sepekan pelaksanaan acara.
Ketika ayat-ayat suci dilantunkan di arena MTQ dan jalur-jalur panjang melaju membelah Sungai Kuantan, Kuansing tidak hanya sedang menjadi tuan rumah dua perhelatan besar. Daerah ini juga sedang berupaya menunjukkan bahwa tradisi, budaya, dan nilai keagamaan dapat berjalan berdampingan dalam satu panggung yang sama.(Inf)










Tulis Komentar