Kelangkaan Pertalite di Bengkalis Kian Parah, Warga Keluhkan Antrean Panjang dan Harga BBM Mahal

BENGKALIS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite kembali dikeluhkan masyarakat di Pulau Bengkalis dalam dua hari terakhir. Sejumlah warga mengaku kesulitan mendapatkan Pertalite di beberapa stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), sehingga terpaksa mengantre panjang atau mencari BBM ke wilayah lain.

Pantauan di lapangan pada Kamis (11/6) menunjukkan antrean kendaraan roda dua dan roda empat mengular di SPBU Jalan Sudirman, Desa Selat Baru, Kecamatan Bantan. Kondisi serupa juga terlihat di SPBU Desa Teluk Latak, Kecamatan Bengkalis.

Sementara itu, dua SPBU yang berada di Pulau Bengkalis, yakni SPBU di Jalan Bantan, Desa Senggoro, dan SPBU Nurwati di Jalan Lembaga, tampak tidak melayani penjualan Pertalite.

Akibat kondisi tersebut, sebagian warga memilih membeli BBM di SPBU Selat Baru. Dari pusat Kota Bengkalis, lokasi itu dapat ditempuh sekitar 15 menit perjalanan.

Muhammad Natsir, salah seorang pengendara, mengaku telah dua hari kesulitan memperoleh Pertalite.

"Sudah dua hari ini sangat sulit mendapatkan Pertalite. Di tempat penjualan eceran juga susah dicari. Kalau pun ada, kami harus ke SPBU Selat Baru," kata Natsir.

Menurut dia, Pertalite merupakan jenis BBM yang paling banyak digunakan masyarakat untuk menunjang aktivitas sehari-hari, sehingga kelangkaannya berdampak langsung terhadap mobilitas warga.

Informasi yang dihimpun menyebutkan kelangkaan Pertalite diduga dipicu keterlambatan pasokan BBM yang masuk ke wilayah kepulauan. Distribusi yang bergantung pada transportasi penyeberangan ro-ro disebut menjadi salah satu kendala dalam penyaluran.

Meski demikian, sumber yang mengetahui distribusi BBM di Bengkalis menyebutkan kuota Pertalite untuk daerah tersebut tidak mengalami pengurangan.

"Setiap hari rata-rata pasokan mencapai 15 kiloliter. Tidak ada pengurangan dari Pertamina. Namun karena tidak diperbolehkan dijual ke pengecer, masyarakat harus membeli langsung ke SPBU sehingga antrean menjadi panjang," ujar sumber tersebut.

Di tengah terbatasnya pasokan Pertalite di sejumlah SPBU, warga juga mengeluhkan masih maraknya penjualan BBM non-subsidi secara eceran dengan harga yang jauh lebih tinggi dibandingkan harga resmi.

Iqbal, warga Bengkalis yang turut mengantre di SPBU, menilai kondisi tersebut memberatkan masyarakat.

"Minyak tidak tersedia di semua SPBU di Pulau Bengkalis. Yang aneh, di tingkat pengecer menggunakan Pertamini justru masih banyak yang menjual, tetapi harganya sangat tinggi. Kami tidak mampu membeli, sehingga terpaksa mengantre cukup lama di SPBU," ujarnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, BBM jenis Pertamax dijual secara eceran dengan harga bervariasi. Pertamax berwarna biru dijual hingga Rp19 ribu per liter, sedangkan Pertamax berwarna merah mencapai Rp24 ribu per liter.

Keluhan serupa juga disampaikan sejumlah warga yang mengantre di SPBU Jalan Lembaga. Mereka berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah untuk menormalkan pasokan Pertalite di Pulau Bengkalis.

"Tidak ada pilihan. Mau tidak mau kami harus mengikuti antrean panjang ini. Yang dibutuhkan masyarakat adalah kemudahan mendapatkan BBM, bukan justru kesulitan seperti sekarang," kata seorang warga.

Warga berharap distribusi Pertalite ke Pulau Bengkalis dapat segera kembali normal agar aktivitas masyarakat tidak terganggu dan kebutuhan BBM subsidi dapat terpenuhi secara merata.(AC)

TERKAIT