Di Bawah Rimbunan Imbo Putui, PHR Menyemai Harapan dari Hutan Adat

Pohon yang sudah berumur ratusan tahun di Hutan Imboi Putui

Penulis : Diana Sari 

Di bawah naungan pepohonan yang menyimpan jejak warisan leluhur, gemericik air sungai dan langkah para pengunjung menjadi bagian dari kehidupan baru Hutan Adat Imbo Putui. Masyarakat di Desa Petapahan kini berusaha merawat hutan sekaligus menggantungkan harapan ekonomi kepadanya.

Dulunya, tak ada yang mengenal tempat ini, kini menjadi salah satu tempat wisata dengan ke eksotisnya tempat ini, dimana air sungai mengalir di antara pepohonan Hutan Adat Imbo Putui, Petapahan. Suaranya memecah kesunyian hutan, berpadu dengan desir angin yang menyentuh dedaunan. Di tepian sungai, beberapa pengunjung menikmati sejuknya air. Tak jauh dari sana, sejumlah orang sibuk mendirikan tenda. Sebagian lainnya berjalan menyusuri kawasan, menikmati suasana alam yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan.

Di tempat ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Pepohonan menjadi peneduh, sungai menawarkan kesegaran, sedangkan jalur-jalur hutan mengundang siapa saja untuk melangkah lebih jauh. Bagi pengunjung, Imbo Putui merupakan tempat untuk beristirahat sejenak dari rutinitas. Namun, bagi masyarakat Petapahan, hutan ini menyimpan cerita yang jauh lebih panjang daripada sekadar perjalanan wisata.

Di antara pepohonan itu tersimpan warisan leluhur. Ada nilai adat yang dijaga, ada tanggung jawab yang diwariskan, dan kini ada harapan baru untuk menjadikan hutan sebagai sumber penghidupan masyarakat.

Harapan tersebut tidak datang tanpa persoalan. Semakin ramai orang berkunjung, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kawasan. Sebab, keindahan yang mengundang wisatawan datang bisa perlahan hilang apabila hutan hanya dipandang sebagai tempat mencari keuntungan.

Masyarakat Petapahan sedang berupaya menemukan jalan tengah: membuka pintu bagi wisatawan, tetapi tetap menjaga batas-batas adat dan kelestarian lingkungan.

IMG-20261027-WA0026.jpg

Menjaga Hutan, Merawat Warisan Leluhur

Bagi masyarakat Petapahan, Hutan Adat Imbo Putui bukan sekadar hamparan pepohonan dengan sungai yang menarik untuk dikunjungi. Kawasan ini merupakan bagian dari identitas masyarakat dan warisan yang harus dipertahankan.

Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat Imbo Putui, Sayid Faizan Tas'ad, berada di antara masyarakat yang memikul tanggung jawab tersebut.

Pengembangan wisata, dalam pandangan pengelola hutan adat, harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian kawasan. Potensi alam memang dapat memberikan manfaat ekonomi, tetapi pemanfaatannya tidak boleh menghilangkan fungsi hutan maupun nilai-nilai adat yang telah diwariskan antargenerasi.

Prinsip itu menjadi penting ketika aktivitas wisata mulai berkembang. Bertambahnya pengunjung berarti bertambah pula kebutuhan fasilitas, pengelolaan sampah, pemeliharaan kawasan, dan pengawasan terhadap aktivitas wisata.

Masyarakat tidak ingin hutan hanya menjadi tempat orang datang, menikmati keindahan, kemudian meninggalkan sampah dan persoalan bagi warga setempat.

Ada aturan yang perlu dihormati. Salah satunya terlihat pada pemisahan area pemandian laki-laki dan perempuan di sungai. Ketentuan tersebut tetap dipertahankan sebagai bagian dari tata nilai masyarakat adat.

Dengan demikian, pengunjung bukan hanya diajak menikmati alam, tetapi juga memahami bahwa mereka sedang berada di kawasan yang memiliki aturan dan sejarah sosial.

Bagi masyarakat, semakin banyak wisatawan datang bukan berarti semakin bebas kawasan dimanfaatkan. Hutan tetap harus memiliki batas yang dihormati bersama

Penjaga di Balik Ramainya Pengunjung

IMG-20261027-WA0026.jpg

Di balik suasana wisata yang dinikmati pengunjung, ada pekerjaan yang tidak selalu terlihat.

Said Afrizal, 27 tahun, yang akrab disapa Eja, menjadi salah satu orang yang menggerakkan kegiatan pengelolaan wisata Imbo Putui. Sebagai Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), ia bersama anggota kelompok terlibat dalam berbagai pekerjaan lapangan.

Mulai dari gotong royong, membersihkan kawasan, menata area berkemah, hingga mengingatkan pengunjung agar mematuhi aturan adat.

Ketika pengunjung menikmati air sungai atau menghabiskan waktu bersama keluarga di bawah pepohonan, para pengelola memiliki tanggung jawab memastikan kawasan tetap bersih dan fasilitas dapat digunakan dengan baik.

Pekerjaan itu tidak selalu tampak dalam foto-foto liburan. Namun, tanpa keterlibatan mereka, kenyamanan pengunjung dan kebersihan kawasan akan sulit dipertahankan.

Eja memahami bahwa menjaga hutan tidak cukup hanya dengan mengandalkan larangan. Kesadaran pengunjung juga harus tumbuh agar mereka ikut bertanggung jawab terhadap tempat yang didatangi.

“Pesan kami kepada pengunjung yang datang ke Hutan Adat Imbo Putui adalah agar selalu menjaga kebersihan dan fasilitas yang sudah tersedia supaya liburan tetap nyaman. Kami berharap pengunjung membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon sembarangan, serta mematuhi aturan adat demi kenyamanan dan keamanan bersama,” ujar Eja.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa hutan bukan ruang tanpa pemilik dan aturan. Ada masyarakat yang hidup berdampingan dengannya, menjaga, sekaligus menggantungkan harapan pada kelestariannya.

Bagi Eja dan anggota Pokdarwis, merawat kawasan berarti menjaga sesuatu yang manfaatnya tidak hanya dirasakan hari ini. Hutan yang tetap lestari juga akan menjadi warisan bagi generasi berikutnya.

IMG-20261027-WA0024.jpg

Dari Ramainya Sungai, Tumbuh Harapan Ekonomi

Gemericik sungai dan suasana alami Imbo Putui mulai menarik lebih banyak pengunjung. Mereka datang bersama keluarga, komunitas, maupun kelompok mahasiswa.

Dalam periode libur panjang selama satu bulan terakhir menurut keterangan pengelola, jumlah kunjungan diperkirakan mendekati 400 orang.

Ada yang datang untuk mandi di sungai, ada yang memilih mendirikan tenda, dan ada pula yang menjelajahi kawasan hutan melalui kegiatan berjalan kaki atau hiking.

Peningkatan kunjungan tersebut membawa dampak terhadap aktivitas ekonomi kelompok pengelola.

Sebelumnya, omzet Pokdarwis disebut berada di kisaran Rp300 ribu per minggu. Pada musim liburan, angkanya dapat mencapai sekitar Rp3 juta per minggu.

Jika dibandingkan, omzet mingguan itu meningkat hingga sepuluh kali lipat.

Angka tersebut menunjukkan bahwa hutan memiliki potensi ekonomi apabila dikelola dengan melibatkan masyarakat. Namun, omzet kelompok tidak serta-merta berarti pendapatan bersih setiap anggota. Biaya operasional, pemeliharaan fasilitas, serta pembagian hasil tetap harus diperhitungkan.

Di balik peningkatan pendapatan itu, terdapat pekerjaan yang semakin besar. Pengelola harus memastikan fasilitas tetap terawat, lingkungan tidak tercemar, dan pengunjung memahami aturan yang berlaku.

Sebab, daya tarik Imbo Putui justru terletak pada alamnya. Jika sungai kehilangan kejernihan, kawasan dipenuhi sampah, dan pepohonan rusak akibat aktivitas wisata, alasan orang datang ke tempat ini perlahan akan menghilang.

Keberhasilan ekonomi karena itu tidak boleh berjalan dengan mengorbankan sumber daya yang menjadi penopangnya.

Dorong Pengembangan Wisata Berbasis Masyarakat di Hutan Adat Imbo Putui

PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) mendorong pengembangan Desa Wisata Hutan Adat Imbo Putui melalui program Community Involvement & Development (CID). Program ini diarahkan untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam mengelola potensi wisata sekaligus menjaga kelestarian kawasan hutan adat.

Jr. Officer CID Zona Rokan South, Arraafi Adna Yudistira, mengatakan pendekatan yang diterapkan menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pengembangan wisata. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat program, tetapi juga dilibatkan dalam proses pengelolaan dan pengambilan peran di kawasan wisata.

Pengembangan tersebut menggunakan konsep Community-Based Tourism (CBT) atau wisata berbasis masyarakat. Pendekatan ini mengutamakan pemanfaatan potensi lokal, peningkatan kapasitas pengelola, serta penguatan aktivitas wisata yang melibatkan masyarakat setempat.

Sejumlah upaya dilakukan melalui peningkatan fasilitas, pengembangan jalur penjelajahan hutan, kegiatan susur sungai, serta pelatihan bagi kelompok masyarakat yang terlibat dalam pengelolaan destinasi. Langkah tersebut ditujukan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan dan memperkuat daya tarik wisata Hutan Adat Imbo Putui.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat berperan membawa pengetahuan lokal sekaligus mengelola kawasan. Perguruan tinggi memberikan pendampingan akademik, sedangkan PHR mendukung melalui program pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah operasinya.

Arraafi menjelaskan, pengembangan wisata Imbo Putui tidak hanya berorientasi pada pembangunan fasilitas, tetapi juga pada pemberdayaan masyarakat dan keberlanjutan sosial serta lingkungan. Karena itu, peningkatan kemampuan warga dalam mengelola potensi daerah menjadi bagian penting dari program tersebut.

Keterlibatan masyarakat dinilai penting karena warga merupakan pihak yang paling dekat dengan kawasan hutan dan memahami kondisi lingkungan setempat. Pengelolaan yang melibatkan masyarakat diharapkan dapat menjaga keseimbangan antara aktivitas wisata, kepentingan ekonomi, dan pelestarian hutan adat.

Melalui program tersebut, PHR bersama mitra akademik dan masyarakat berupaya memperkuat pengembangan Imbo Putui sebagai destinasi wisata berbasis hutan adat. Keberlanjutan program diharapkan tidak hanya meningkatkan manfaat ekonomi bagi warga, tetapi juga mendorong pengelolaan kawasan yang tetap memperhatikan kelestarian lingkungan dan nilai-nilai adat.

images (1).jpeg

Jangan Sampai Hutan Kehilangan Ceritanya

Ada tantangan yang menunggu di balik semakin dikenalnya Imbo Putui sebagai destinasi wisata.

Semakin banyak pengunjung berarti semakin besar pula kebutuhan pengelolaan sampah, sanitasi, keselamatan, pemeliharaan fasilitas, dan pengawasan kawasan.

Aturan mengenai aktivitas yang diperbolehkan di dalam hutan juga perlu diperjelas dan disosialisasikan. Ketentuan adat harus dipahami pengunjung, sedangkan daya dukung lingkungan perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan intensitas kunjungan.

Pengelola juga perlu memastikan bahwa manfaat ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat. Keterbukaan pengelolaan pendapatan dan pembagian hasil menjadi bagian penting untuk menjaga kepercayaan serta keberlangsungan kelompok.

Semua itu merupakan pekerjaan yang tidak selalu terlihat oleh wisatawan. Mereka mungkin hanya melihat sungai, pepohonan, tempat berkemah, dan jalur penjelajahan. Namun, di balik pemandangan tersebut, ada masyarakat yang bekerja agar keindahan itu tetap terjaga.

Pada akhirnya, keberhasilan Imbo Putui tidak cukup diukur dari banyaknya pengunjung atau besarnya omzet kelompok setiap pekan.

Ada pertanyaan yang lebih penting: apakah sungainya tetap bersih ketika musim liburan berakhir? Apakah pepohonannya masih berdiri ketika wisata semakin berkembang? Apakah aturan adat tetap dihormati ketika semakin banyak orang datang?

Dan yang tidak kalah penting, apakah masyarakat tetap menjadi pemilik peran utama dalam menjaga hutan yang diwariskan leluhur mereka?

Di Petapahan, hutan adat itu kini membuka ruang bagi harapan ekonomi. Namun, harapan tersebut harus berjalan bersama tanggung jawab untuk menjaga alam.

Sungai boleh menjadi tempat orang mencari kesegaran. Jalur hutan boleh menjadi jalan bagi wisatawan untuk mengenal keindahan alam. Tetapi Imbo Putui tidak boleh kehilangan makna yang sesungguhnya.

Sebab, yang diwariskan leluhur bukan sekadar pepohonan dan aliran sungai. Ada nilai, aturan, dan tanggung jawab yang harus terus hidup di dalamnya.

Dan selama masyarakat masih menjaga warisan itu, Imbo Putui bukan hanya akan menjadi tempat orang datang berlibur. Ia akan tetap menjadi hutan yang menyimpan kehidupan dan harapan bagi generasi yang akan datang.

 

 

 

TERKAIT