Kenali Kenduri Apam: Tradisi Melayu Siak yang Memperkuat Ikatan Sosial dan Keimanan
SIAK- Di tengah gema doa dan iringan kue apam yang tersaji, masyarakat Siak merayakan sebuah tradisi adat yang penuh makna, Kenduri Apam. Kegiatan yang digelar Pemerintah Kabupaten Siak bersama Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) ini bukan hanya untuk memperingati Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, tetapi juga untuk menyambut kedatangan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah.
Sejarah Kenduri Apam berakar kuat dalam tradisi masyarakat Melayu, yang sejak dulu menganggap acara ini sebagai sarana untuk mempererat tali silaturahmi, sekaligus memperkuat ikatan sosial dalam komunitas. Dalam budaya Melayu, apam—sejenis kue berbentuk bulat yang terbuat dari tepung beras dan gula—bukan sekadar makanan, tetapi juga simbol permohonan ampunan (afwan) kepada Allah SWT dan ajakan untuk saling memaafkan antar sesama.
Kue apam, dengan warna-warna cerah yang menggoda, menjadi inti dari tradisi ini. Masyarakat berkumpul, berbagi kue apam dalam sebuah doa bersama yang juga dirangkaikan dengan sedekah bagi anak-anak yatim. Sebanyak 50 anak yatim menerima santunan dalam acara tersebut, sebagai bentuk kepedulian sosial dan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT.
"Tradisi ini sudah lama ada, dan hari ini kami menghidupkannya kembali. Kenduri Apam adalah momen untuk kita berkumpul, berbagi, dan memohon keselamatan serta keberkahan bagi negeri ini," ujar Sekretaris Daerah Kabupaten Siak, Mahadar, yang hadir mewakili Bupati Siak.
Kenduri Apam tidak hanya tentang tradisi makan bersama, tetapi juga tentang doa dan harapan yang mengiringi setiap suapan kue apam. Acara ini menjadi refleksi mendalam bagi umat Islam, yang melalui peringatan Isra Mi'raj, diingatkan kembali akan pentingnya menjaga salat dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT serta sesama.
Bagi Mahadar, acara ini merupakan pengingat akan pentingnya melestarikan adat dan budaya dalam menghadapi perubahan zaman. "Kenduri Apam adalah warisan adat yang sangat sarat makna, dan kita harus terus menjaga tradisi ini agar tidak terkikis oleh zaman. Ini adalah bagian dari falsafah adat Melayu yang bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah," ujarnya.
Masyarakat Siak yang hadir dalam acara ini tampak khusyuk mengikuti setiap rangkaian doa, seraya menikmati kue apam yang disajikan. Kenduri Apam adalah simbol kebersamaan yang tidak lekang oleh waktu. Sebuah tradisi yang mengajarkan pentingnya berbagi, saling memaafkan, dan memperkuat iman, terutama dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
"Semoga dengan tradisi ini, kita semua dapat menyambut Ramadan dengan hati yang bersih, dan semangat untuk memperbaiki diri serta meningkatkan ibadah kita," tutup Mahadar dalam doa bersama yang menandai berakhirnya acara tersebut.
Dengan kehangatan suasana dan harapan yang mengalir, Kenduri Apam menjadi lebih dari sekadar sebuah tradisi. Ia adalah bukti nyata dari kekuatan budaya yang mengakar dalam masyarakat Siak, menghubungkan masa lalu dengan masa depan, serta menumbuhkan semangat kebersamaan yang terus hidup di tengah perubahan zaman.(DI)







.jpeg)


Tulis Komentar