Dari Tanah Sagu Meranti ke Pasar Nasional, UMKM Mengangkat Martabat Pangan Lokal Nusantara

MERANTI — Hamparan pohon sagu yang tumbuh di lahan gambut Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, tidak hanya menjadi ciri khas bentang alam pesisir. Tanaman ini telah lama menjadi sumber pangan, penopang ekonomi masyarakat, sekaligus bagian dari identitas budaya yang diwariskan lintas generasi.

Sebagai salah satu sentra penghasil sagu terbesar di Indonesia, Kepulauan Meranti memiliki potensi yang terus berkembang. Jika dahulu sagu lebih banyak dipasarkan sebagai bahan baku, kini komoditas tersebut diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah melalui tangan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

IMG_20260703_220335.jpg

Beragam produk olahan sagu menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke Selatpanjang. Mie sagu, brownies sagu, stik sagu, kue bangkit, hingga aneka camilan modern menjadi oleh-oleh khas yang mudah dijumpai di sejumlah gerai UMKM.

Di balik produk-produk tersebut, terdapat kisah para pelaku usaha yang memilih mengembangkan potensi lokal sebagai sumber pertumbuhan ekonomi.

Salah satunya adalah Gerai Sagu Kite di Jalan Siak, Selatpanjang. Gerai pusat oleh-oleh khas Meranti yang didirikan Praptini itu lahir pada masa pandemi Covid-19, ketika banyak pelaku usaha menghadapi tekanan ekonomi.

Alih-alih menghentikan usahanya, Praptini melihat peluang pada komoditas sagu yang selama ini menjadi kekayaan daerah. Ia meyakini produk berbahan dasar sagu memiliki potensi besar apabila dikemas lebih menarik dan dipasarkan secara lebih luas.

Keputusan tersebut membuahkan hasil. Saat ini Gerai Sagu Kite mempekerjakan sekitar 12 karyawan yang menangani produksi hingga pemasaran. Selain melayani pembeli secara langsung, berbagai produk dipasarkan melalui platform digital dan media sosial sehingga menjangkau konsumen di berbagai daerah.

"Hampir seluruh Indonesia sudah mengenal produk kami. Penjualan online sangat membantu memperluas pasar," kata Praptini.

Gerai Sagu Kite juga menjadi wadah pemasaran bagi sekitar 25 UMKM di Kabupaten Kepulauan Meranti. Melalui kolaborasi tersebut, sedikitnya 15 produk olahan sagu dipasarkan, antara lain mie sagu instan, stik sagu, brownies sagu, donat crispy sagu, sagu rendang, sagu lemak, sesagon, nastar sagu, kue bangkit sagu, sohuy, mie ayam sagu, cendol sagu, bakso sagu, kolong sagu, dan sagon kelapa.

Di antara berbagai produk tersebut, Mie Sagu Boejang Siap Saji menjadi produk unggulan sekaligus penyumbang penjualan terbesar.

Dalam kondisi normal, Gerai Sagu Kite membukukan omzet sekitar Rp50 juta hingga Rp60 juta per bulan. Pada periode hari besar seperti Idulfitri dan Tahun Baru Imlek, omzet meningkat hingga sekitar Rp80 juta per bulan.

Untuk memenuhi kebutuhan produksi, sekitar 100 kilogram tepung sagu kering diolah setiap pekan menjadi berbagai produk siap konsumsi.

Bagi Praptini, capaian tersebut menjadi bukti bahwa produk pangan lokal mampu bersaing apabila dikelola secara profesional, menjaga kualitas, serta mampu mengikuti perkembangan pasar.

Komitmen mengembangkan UMKM berbasis sagu juga terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM, dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, mengatakan pemerintah terus mendampingi pelaku UMKM melalui pelatihan, fasilitasi legalitas usaha, penguatan kemasan produk, hingga perluasan akses pemasaran.

Menurut Eko, sagu merupakan komoditas strategis yang memiliki nilai ekonomi tinggi sekaligus menjadi keunggulan daerah.

"Potensi sagu yang dimiliki Kepulauan Meranti merupakan keunggulan daerah yang harus terus dikembangkan. Pemerintah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu naik kelas, memiliki daya saing, membuka lapangan pekerjaan baru, dan memperluas pasar. Harapan kami, produk-produk berbahan sagu dari Meranti semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional," ujarnya.

Dukungan serupa disampaikan Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Lianita Muharni. Menurut dia, pengembangan UMKM berbasis sagu tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat identitas daerah.

Ia mengatakan DPRD akan terus mendorong kebijakan yang mendukung pertumbuhan UMKM melalui penguatan anggaran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta perluasan akses pembiayaan dan pemasaran.

"Sagu merupakan identitas Kabupaten Kepulauan Meranti sekaligus kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu kami ingin pelaku UMKM terus mendapat dukungan agar semakin berkembang. Ketika UMKM tumbuh, lapangan kerja ikut terbuka dan ekonomi daerah bergerak. Kami optimistis produk-produk sagu Meranti mampu menjadi kebanggaan daerah sekaligus bersaing di pasar nasional," kata Lianita.

Perkembangan UMKM berbasis sagu di Kepulauan Meranti menunjukkan bahwa kekayaan alam dapat menghasilkan nilai ekonomi yang lebih besar melalui inovasi dan kreativitas. Dari bahan pangan tradisional, sagu kini berkembang menjadi beragam produk modern yang mampu menjangkau pasar nasional.

Lebih dari sekadar oleh-oleh, setiap produk olahan sagu membawa cerita tentang upaya masyarakat mempertahankan warisan pangan lokal sekaligus menciptakan peluang ekonomi di daerah.

Di tengah persaingan produk pangan modern, Kepulauan Meranti menunjukkan bahwa pangan lokal tetap memiliki daya saing. Dari tanah sagu di pesisir Riau, para pelaku UMKM terus membawa nama Meranti menuju pasar nasional dengan mengedepankan kualitas, inovasi, dan kearifan lokal.

TERKAIT